Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Cinta, Nafsu dan Validasi di Era Media Sosial: Ketika Batas Malu dan Adab Kian Memudar

Kamis, 05 Februari 2026 | 23.31 WIB Last Updated 2026-02-05T16:32:09Z
Foto, ilustrasi gambaran seorang perempuan di era modern dan globalisasi.


Queensha.id — Edukasi Sosial,


Sebuah kalimat yang kerap terdengar sebagai candaan di ruang digital kini justru menjadi cermin kondisi moral masyarakat modern. Di tengah arus media sosial yang serba cepat, banyak orang berlomba mencari perhatian, validasi, dan pengakuan. Sayangnya, dalam proses itu, batas rasa malu dan adab perlahan memudar.


Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Para pengamat sosial melihat adanya pergeseran nilai relasi manusia. Hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar ketulusan dan tanggung jawab, kini seringkali berubah menjadi transaksi emosional, bahkan material.


Tiga Gambaran Zaman yang Mengkhawatirkan

Beberapa pola relasi yang sering muncul di ruang digital mencerminkan perubahan tersebut.


Pertama, relasi yang menilai cinta dari materi. Dalam banyak kasus, perhatian dan kasih sayang diukur dari pemberian finansial. Hubungan berubah menjadi transaksi: ada imbalan, ada tuntutan. Ketulusan menjadi kabur di balik ekspektasi materi.


Kedua, kerentanan emosional pasca-luka masa lalu. Sebagian orang yang pernah mengalami kegagalan rumah tangga atau hubungan cenderung mudah percaya pada janji manis tanpa kejelasan tanggung jawab. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pihak yang tidak serius, sehingga melahirkan relasi yang rapuh dan tidak sehat.


Ketiga, relasi terlarang yang merusak komitmen. Ini yang paling berbahaya. Ketika seseorang yang sudah memiliki pasangan masih membuka ruang pertemuan di balik layar, dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada keluarga, anak, dan lingkungan sosial. Kepercayaan runtuh, rumah tangga hancur, dan harga diri terkikis.


Cinta atau Nafsu?


Para pemerhati keluarga dan pendidikan moral menegaskan bahwa perbedaan antara cinta dan nafsu semakin kabur di era digital. Cinta menuntun pada kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen jangka panjang. Nafsu justru terburu-buru, menuntut kepuasan instan, lalu meninggalkan luka.


Banyak hubungan tampak indah di media sosial, namun rapuh dalam kenyataan. Dibangun atas keinginan sesaat, bukan komitmen yang matang. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, hubungan pun mudah runtuh.


Saat Rasa Malu Dianggap Kuno

Dalam masyarakat tradisional, rasa malu pernah menjadi benteng moral. Kini, sebagian kalangan menganggapnya sebagai nilai lama yang tidak relevan. Kebebasan sering disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas.


Akibatnya, hal yang dulu dianggap keliru kini terlihat biasa. Bahkan, yang menjaga nilai justru kerap ditertawakan atau dianggap ketinggalan zaman. Padahal, tanpa batas moral, relasi manusia rentan menjadi dangkal dan penuh konflik.


Hakikat Kebahagiaan yang Sering Terlupakan

Banyak orang mencari kebahagiaan melalui materi, pujian, atau hubungan yang penuh sensasi. Namun para pakar keluarga mengingatkan bahwa kebahagiaan yang bertahan lama justru lahir dari hal sederhana: rasa hormat, kesetiaan, dan tanggung jawab.


Relasi yang dibangun karena materi cenderung berakhir ketika materi habis. Sebaliknya, hubungan yang dibangun karena ketulusan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam berbagai kondisi.


Pandangan Ulama Indonesia

Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia sering menyoroti fenomena ini dalam ceramah dan kajian mereka.


Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya menjaga martabat manusia di tengah perubahan zaman. Menurutnya, teknologi dan kebebasan harus diimbangi dengan tanggung jawab moral agar tidak merusak tatanan keluarga dan masyarakat.


Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat kerap mengingatkan bahwa relasi yang tidak dibangun atas dasar tanggung jawab hanya akan melahirkan penyesalan. Ia menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri dan komitmen, terutama dalam hubungan yang sudah memiliki ikatan sah.


Buya Yahya juga sering menyoroti pentingnya menjaga batas pergaulan dan menahan diri dari hubungan yang berpotensi merusak rumah tangga. Menurutnya, menjaga kehormatan bukan sekadar tuntutan agama, tetapi juga kunci ketenangan hidup.


Ulama dan tokoh keagamaan sepakat bahwa kebebasan di era modern tidak boleh menghapus nilai adab. Justru, semakin terbuka dunia digital, semakin besar pula tanggung jawab individu untuk menjaga diri.


Nasihat untuk Masyarakat

Para tokoh agama dan pengamat sosial menyarankan beberapa hal sederhana namun mendasar:

1. Jangan menukar harga diri dengan perhatian sesaat,

2. Jangan menggantungkan hati pada janji tanpa bukti,

3. Jangan bermain api di balik komitmen.



Jika ingin dihargai, hargai diri sendiri.
Jika ingin tenang, kembali pada adab dan iman.


Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan, menjaga kehormatan diri justru menjadi kekuatan yang paling berharga. Zaman boleh berubah, teknologi boleh maju, tetapi nilai moral dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi kehidupan yang sehat.


Pada akhirnya, di tengah kegelapan nilai yang sering dikeluhkan, orang-orang yang tetap menjaga kehormatan dan komitmen justru akan menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.


***
Tim Redaksi.