Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Konten Asal-asalan Demi FB Pro dan FYP, Pengamat Sosial Jepara: Jangan Korbankan Kebenaran demi Viral

Selasa, 07 Juli 2026 | 12.02 WIB Last Updated 2026-07-07T05:05:54Z

Foto, Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo.


Queensha.id – Jepara,


Fenomena konten kreator di Facebook yang mengunggah foto dengan narasi tidak sesuai fakta semakin marak. Demi mengejar FB Pro, FYP, jumlah tayangan, hingga pendapatan monetisasi, sebagian kreator nekat menuliskan judul maupun keterangan yang mengada-ada sehingga memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.



Tidak sedikit foto orang, peristiwa, maupun lokasi yang sebenarnya tidak berkaitan, namun diberi tulisan sensasional agar memancing rasa penasaran pengguna media sosial. Akibatnya, banyak warganet langsung mempercayai isi unggahan tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.



Praktik tersebut dinilai dapat menyesatkan publik. Selain menciptakan kebingungan, narasi yang tidak sesuai fakta juga berpotensi merusak nama baik seseorang, memicu keresahan, hingga mempercepat penyebaran hoaks di ruang digital.



Media sosial sejatinya memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk berkarya. Namun kebebasan tersebut tetap harus diiringi tanggung jawab moral. Konten yang menarik tidak harus dibuat dengan memutarbalikkan fakta atau menambahkan cerita yang tidak pernah terjadi.



Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa fenomena tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian kreator terhadap etika bermedia sosial.



Menurutnya, mengejar popularitas maupun keuntungan finansial merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh mengorbankan kejujuran dan kebenaran informasi.



"Jangan sampai demi mengejar FB Pro, FYP, atau monetisasi, seseorang mengabaikan fakta. Sekali masyarakat kehilangan kepercayaan, akan sangat sulit mengembalikannya. Konten yang baik adalah konten yang informatif, edukatif, dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Purnomo Wardoyo, Selasa (7/7/2026).

 

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap setiap unggahan yang beredar di media sosial. Warganet perlu membiasakan diri membaca informasi secara utuh, melihat sumbernya, serta melakukan verifikasi sebelum ikut membagikan kembali.



"Jadilah pengguna media sosial yang cerdas. Jangan langsung percaya hanya karena melihat sebuah foto dengan tulisan yang meyakinkan. Periksa dulu kebenarannya agar tidak ikut menyebarkan informasi yang keliru," tambahnya.



Di era digital saat ini, literasi digital menjadi kebutuhan penting. Masyarakat diharapkan mampu membedakan antara informasi yang benar, opini, satire, maupun konten yang sengaja dibuat hanya untuk menarik perhatian.


Dengan meningkatnya kesadaran kreator maupun pengguna media sosial, diharapkan ruang digital Indonesia menjadi lebih sehat, edukatif, dan bebas dari informasi yang menyesatkan. Popularitas memang bisa diraih dengan cepat, tetapi kepercayaan publik hanya dapat dibangun melalui kejujuran dan tanggung jawab.



***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.