Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Aib Rumah Tangga Bukan Konsumsi Publik: Ulama Ingatkan Bahaya Membuka Luka Keluarga ke Ruang Sosial

Selasa, 03 Februari 2026 | 22.51 WIB Last Updated 2026-02-03T15:52:38Z
Foto, ilustrasi gambaran pasangan suami istri sedang bertengkar. (Arina.id)


Queensha.id – Edukasi Sosial,


Rumah tangga kerap dihadapkan pada konflik, perbedaan pendapat, bahkan pertengkaran. Namun, para ulama mengingatkan bahwa tidak semua masalah layak dipertontonkan ke ruang publik. Ada aib rumah tangga yang justru wajib dijaga, demi keselamatan batin anak, kehormatan keluarga, dan keutuhan hubungan itu sendiri.


Dalam pandangan nilai keislaman dan budaya ketimuran, pertengkaran bukan sekadar urusan dua orang dewasa. Dampaknya bisa menjalar jauh, terutama ketika konflik dilakukan di hadapan anak, orang tua, atau disebarluaskan kepada lingkungan sosial.


Para ulama terkemuka di Indonesia menekankan bahwa menjaga rahasia rumah tangga adalah bagian dari akhlak mulia. Pertengkaran yang dipertontonkan, apalagi disertai caci maki, dinilai berpotensi meninggalkan luka batin mendalam yang tak mudah disembuhkan.


“Anak mungkin terlihat diam, tapi batinnya merekam segalanya. Luka batin anak jauh lebih dalam dari yang disadari orang tua,” ujar salah satu ulama dalam berbagai kajian keluarga sakinah.


Ulama juga mengingatkan agar konflik rumah tangga tidak diluapkan di hadapan orang tua atau mertua. Bagi generasi yang lebih tua, pertengkaran anaknya bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan beban emosional yang bisa terus diingat dan disesali.


Lebih jauh, kebiasaan menjadikan teman sebagai tempat curhat masalah rumah tangga juga dinilai berisiko. Hari ini masalah bisa saja selesai, namun cerita buruk tentang pasangan kerap terlanjur menyebar dan sulit ditarik kembali. Hal ini berpotensi merusak martabat pasangan serta memperkeruh keadaan.


“Islam mengajarkan menutup aib, bukan menyebarkannya. Apalagi aib pasangan, yang sejatinya adalah amanah,” tegas para pengamat keislaman.


Pertengkaran di ruang publik pun mendapat sorotan tajam. Menurut para ulama, dunia tidak perlu menjadi saksi drama rumah tangga. Masalah yang seharusnya diselesaikan dengan dialog justru berubah menjadi tontonan yang mempermalukan kedua belah pihak.


Dalam ajaran agama, menjaga gengsi dan martabat pasangan mulai dari seburuk apa pun keadaannya yang dipandang sebagai bentuk kedewasaan iman. Selama masih ada niat untuk berjalan bersama, maka yang dibutuhkan adalah introspeksi dan perbaikan diri, bukan saling membuka aib dan menjatuhkan.


Para ulama sepakat, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar di depan orang lain, melainkan siapa yang paling bersedia menjaga, memaafkan, dan memperbaiki diri secara diam-diam.
Di tengah era media sosial dan budaya pamer konflik, pesan ini menjadi pengingat bahwa menjaga aib rumah tangga bukan tanda kalah, melainkan tanda kebijaksanaan.


***
Tim Redaksi.